Thursday, April 21, 2016

Antologi Puisi - Kota Cahaya

Daftar Buku :
Judul               : Kota Cahaya
Karya              : Isbedy Stiawan Z.S.
Penerbit           : Grasindo
Tebal buku      : 153 halaman.
Tahun terbit     : 2005.


Berbeda dengan antologi puisi Rendra dan Wiji Thukul yang mengangkat tema tentang keadan suatu bangsa, Isbedy Stiawan Z.S mengangkat tema sebuah peraaan cinta yang dikemas melalui kata-kata yang romantis. Isbedy menggambarkan sebuah perasaan dengan kalimat-kalimat yang jernih sehingga menambah kesan bahasa puisinya semakin romantis. Dalam pemilihan diksi, Isebdy menggunakan diksi yang konatif. Sebenarnya pemilihan diksi yang konotatif sangat tepat dan bagus untuk menggambarkan tentang sebuah perasaan cinta. Namun, meski dirasa pemilihan diksi yang konotatif pada puisi Isbedy sudah sangat sesuai, tetapi untuk para pembaca awan, puisi-puisi Isbedy akan sulit di pahami. Pembaca akan mengalami kesulitan memahami makna apa yang ingin disampaikan penyair karena menggunakan kalimat-kalimat konotatif, meski pemilihan kata-katanya sudah sangat bagus.
Nilai estetika yang terdapat pada antologi puisi Isbedy terletak dalam pemilihan kata-katanya yang sangat indah, meskipun agak sulit dipahami oleh para pembaca awam. Selain itu, bentuk kepenulisan Isbedy ada yang bentuknya dari kiri ke kanan, ada yang sedikit menjorok ke kanan, dan ada yang sangat menjorok ke kanan, ini merupakan salah satu cara Isbedy, untuk menambahkan kesan makna di dalam puisinya. Perumpamaan-perumpanan yang digunakan oleh Isbedy biasanya perempuan tentang keindahan-keindahan alam.

Sunday, April 17, 2016

Priyayi dan Sahaya dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer



Penulis Novel Gadis Pantai ini, Pramoedya Ananta Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, Indonesia pada tanggal 6 Februari 1925. Dia salah satu orang yang sangat berjasa bagi sastra Indonesia karena buku yang sudah ditulisnya sangat menarik untuk dibaca. Separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara karena menentang Belanda pada saat itu. Tetapi, ia mempunyai banyak penghargaan dalam bidang sastra.
Tahun 1982, cetakan pertama Gadis Pantai ini diterbitkan. Bukan hanya Gadis Pantai karya Pram, masih banyak deretan judul novel yang ditulis oleh Pram, diantaranya Rumah Kaca (1988), Bumi Manusia (1980), Jejak Langkah (1985), Keluarga Gerilya (1986), dan sebagainya.
Saya akan sedikit membahas pokok-pokok yang ada di dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya ini. Yang pertama saya akan membahas hal yang mengesankan dan tidak mengesankan dalam novel tersebut.
Hal yang mengesankan menurut saya dalam penokohan tokoh utama dalam novel ini tidak diberi nama sepanjang alur cerita. Hanya dipanggil dengan sebutan “Gadis Pantai” atau “Mas Nganten”. Menarik di sini menurut saya karena mengajak pembaca untuk sedikit bermain oleh penamaan tokoh yang tanpa nama seperti kebanyakan novel. Menyuruh pembaca untuk mengingat bahwa tokoh utama ialah si Gadis Pantai ini. “Mereka ditinggalkan di ruangan panjang itu. Tak ada seorang pun bicara. Gadis Pantai lupa pada tangisnya”. (Gadis Pantai, 2003:17) “Gadis Pantai terperanjat. Sisir di tangannya jatuh di atas meja”. (Gadis Pantai, 2003:27) “Aku terlalu lelah, Mas Nganten. Buatlah aku bermimpi tanpa tidur”. (Gadis Pantai, 2003:101)