Wednesday, April 13, 2016

Antologi Puisi - Potret Pembangunan Dalam Puisi



Data Buku :
Judul               : Potret Pembangunan Dalam Puisi
Karya              : W.S Rendra.
Penertbit          : Pustaka Jaya.
Tebal buku      : 88 halaman.
Tahun terbit     : cetakan pertama tahun 1993, cetakan kedua tahun 1996, cetakan ketiga tahun 2013.


Pada antologi puisi Rendra yang berjudul Potret Pembangunan Dalam Puisi, ia menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia yang sedang terjadi pada saat itu, khuhsusnya pada kondisi pembangunan. Ini terlihat dari beberapa judul puisinya, yaitu: Sajak Pertemuan Mahasiswa dan Sajak Seonggok Jagung serta masih ada beberapa yang lainnya. Bentuk kepenulisan puisi Rendra rata-rata adalah puisi bersyair panjang. Namun, dalam setiap puisinyaia menggunakan diksi yang lugas dan langsung mengarah dengan maksud yang akan ia sampaikan dalam puisinya. Meskipun, rata-rata puisi Rendra termasuk puisi yang bersyair panjang, dengan ia memilih diksi yang tepat dan lugas menjadikan puisinya mudah dipahami oleh para pembacanya. Selain itu, diksi lugas yang dipilih Rendra dan memiliki makna yang sebenarnya dan menambah nilai estetika tersendiri pada setiap karyanya. Bentuk penulisan setiap puisinya pun berbeda-beda, ada bentuk puisi yang ditulis lurus biasa saja, ada yang ditulis lurus dari kiri ke kanan lalu pada bait selanjutnya agak dibuat menjorok ke kanan, dan ada pula yang di antara syairnya diberi tanda (-) atau bahkan tanda titik dengan jumlahnya banyak (………….). Mungkin bentuk kepenulisan seperti ini, memiliki makna khusus dalam puisi Rendra. Dengan bentuk kepenulisan yang seperti ini, juga menambah nilai keindahan pada puisi Rendra.

Saturday, April 9, 2016

Menelusuri “Masa Depan Gelap” : Sebuah Kritik Satra



Masa Depan Gelap?
Bagaimana menganggap sebuah pekerjaan kotor dapat memiliki masa depan yang cerah?
Madegel menceritakan tentang Adang Bima adalah seorang Don Corleone kecil-kecilan yang menguasai suatu wilayah dengan “pasukan” premannya. Selepas memenangkan pertarungan ksatria dengan pemimpin gangster kubu lawan, ia dicurangi dan dibokong Ateng Gada. Kepalanya dipukul hingga pingsan. Polisi datang dan perkelahian bubar serabutan. Adang Bima ditemukan masyarakat yang sedang takbiran dan dibawa ke rumah Haji Suryaman, seorang tokoh masyarakat dan pengusaha kaya yang tampil ebagai pemuka agama, pemurah, suci dan gemar poligami. Saat siuman, ternyata Adang Bima mengalami amnesia. Ia mendalami agama dan berubah menjadi orang sakeh sekaligus cendekia. Dalam pada itu, Suryaman makin kelihatan menjadikan posisinya sebagai pemuka agama untuk memenuhi ambisinya akan segitiga emas : harta, kuasa, wanita. Ia bersiap dengan berbagai cara ingin menjadi wakil rakyat alias anggota DPR yang terhormat. Berbagai intrik pun dicoba untuk memenangi tender (harta), terpilih dalam pilkada (kuasa), dan menceraikan istri kedua dari ke empat istrinya untuk mereformasinya dengan gadis muda.