Saturday, April 9, 2016

Menelusuri “Masa Depan Gelap” : Sebuah Kritik Satra



Masa Depan Gelap?
Bagaimana menganggap sebuah pekerjaan kotor dapat memiliki masa depan yang cerah?
Madegel menceritakan tentang Adang Bima adalah seorang Don Corleone kecil-kecilan yang menguasai suatu wilayah dengan “pasukan” premannya. Selepas memenangkan pertarungan ksatria dengan pemimpin gangster kubu lawan, ia dicurangi dan dibokong Ateng Gada. Kepalanya dipukul hingga pingsan. Polisi datang dan perkelahian bubar serabutan. Adang Bima ditemukan masyarakat yang sedang takbiran dan dibawa ke rumah Haji Suryaman, seorang tokoh masyarakat dan pengusaha kaya yang tampil ebagai pemuka agama, pemurah, suci dan gemar poligami. Saat siuman, ternyata Adang Bima mengalami amnesia. Ia mendalami agama dan berubah menjadi orang sakeh sekaligus cendekia. Dalam pada itu, Suryaman makin kelihatan menjadikan posisinya sebagai pemuka agama untuk memenuhi ambisinya akan segitiga emas : harta, kuasa, wanita. Ia bersiap dengan berbagai cara ingin menjadi wakil rakyat alias anggota DPR yang terhormat. Berbagai intrik pun dicoba untuk memenangi tender (harta), terpilih dalam pilkada (kuasa), dan menceraikan istri kedua dari ke empat istrinya untuk mereformasinya dengan gadis muda.

Thursday, April 7, 2016

Kritik Novel In a Blue Moon


MENEMUKAN JODOH MELALUI NOVEL

Persoalan tentang perjodohan bukanlah sebuah persoalan baru yang ada ditengah-tengah kehidupan masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat luar negeri. Berbagai cara ditempuh agar setiap manusia dapat menemukan jodoh terbaiknya masing-masing. Ketika seseorang belum menemukan jodohnya, terkadang orang-orang terdekatlah yang membantu mereka mendapatkan jodoh. Dari sinilah timbul berbagai macam konsep tentang perjodohan. Timbulnya berbagai macam konsep tentang masalah cinta dan perjodohan merupakan hal yang cukup menarik untuk diceritakan kembali. Masyarakat sudah mengenal tentang istilah perjodohon sejak zaman dahulu. Melihat keadaan seperti ini, para penulis sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang banyak yang mengangakt tulisannya dengan tema perjodohan. Para penulis yang pernah menulis novel tentang konsep perjodohan diantaranya adalah Marah Rusli dengan novelnya yang berjudul Siti Nurbaya, Ilana Tan dengan novelnya yang berjudul In a Blue Moon, Maya Lestari dengan novelnya yang berjudul Love, Interrupted dan masih banyak yang lainnya.
Awal perkembangan novel dimulai dengan timbulnya novel-novel Melayu Cina sekitar tahun 1885.  Sedangkan di Indonesia pada tahun 1920 dianggap sebagai tahun lahirnya kesusastraan Nasional yang ditandai dengan lahirnya novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar. Kemudian pada awal abad ke-20an, lahirlah angkatan Balai Pustaka. Sekelompok penggarang pada angkatan Balai Pustaka memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan budi pekerti dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui bacaan. Dalam perkembangannya, angkatan ini sebenarnya diciptakan oleh orang-orang Belanda. Tujuan mereka mendirikan angkatan Balai Pustaka sebenarnya bukan untuk mengembangkan dan memajukan karya sastra Indonesia, melainkan untuk kepentingan politik belaka. Sebagian besar karya sastra pada angkatan Balai Pustaka, bertemakan tentang perjodohan atau kawin paksa. Contoh novel yang bertemakan perjodohan pada angkatan Balai Pustaka yaitu novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli.